UPAYA TEOLOGIS DALAM PENYELESAIAN KONFLIK Lepas dari usaha-usaha teologis untuk membangun hubungan Kristen-Islam yang lebih baik, dari sudut sosialnya perlu dikembangkan bersama paham pluralisme. Dalam mengembangkan ini, kita mengenal dua adagium yang membenarkan usaha membangun hubungan antar-agama, yaitu, pertama, menuntut pemahaman yang benar mengenai keberadaan agama lain, dan kedua, komitmen kepada iman sendiri. Perpaduan kedua hal ini menjadikan kita seorang beragama yang terbuka dan memang seperti adagium yang ketiga, beragama secara sosial, berarti antar-agama. Maka, ketiga adagium ini menjadi dasar untuk usaha pluralisme. Nurcholish Madjid pernah mengemukakan, pluralisme tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari berbagai suku dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekadar sebagai "kebaikan negatif", hanya ditilik dari kegunaann...
Postingan populer dari blog ini
PARADIGMA SOSIOLOGI
PARADIGMA SOSIOLOGI Meskipun masih terjadi banyak perdebatan dalam penggolongan paradigma dalam ilmu Sosiologi, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga paradigma (George Ritzer: 2004). Ketiga paradigma dimaksud adalah : Pertama, Paradigma Fakta Sosial. Yang menjadi pusat perhatian dalam paradigma fakta sosial terdiri dari dua tipe, yaitu Struktur Sosial dan Pranata Sosial. Teori yang tergabung adalah Teori Fungsionalisme Struktural , Teori Konflik, Teori Sistem, dan Teori Sosiologi Makro. Tokoh aliran ini antara lain : Emile Durkheim, Talcot Parson, Robert K. Merton, Herbert Gans, Karl Mark, Ralp Dahrendorf dan lain-lain. Metode penelitian empiris yang digunakan cenderung ke arah metode kuesioner dan interviu. Variabel penelitian lebih ke arah Group. Kedua, Paradigma Definisi Sosial . Yang menjadi pusat perhatian dalam paradigma definisi sosial adalah tentang Tindakan Sosial, yaitu tindakan individu mempunyai makna atau arti subyektif ba...
pencitraan Islam di mata global
SETTING GLOBAL PENCITRAAN ISLAM syamsul amal Beberapa Kritik terhadap Islam dan Reaksinya Sebagai sebuah agama, Islam tidak lepas dari kecaman dan kritik. Salah seorang di antaranya adalah Salman Rusydi penulis buku The Satanic Verses, by: Salman Rusydi, novel yang pernah di-pleset-kan menjadi “Salmanic Verses by: Satan Rusydi” ditulis pada tahun 1988. Di dalam novel ini, Salman menokohkan Allah, Nabi Muhammad, istri, dan juga sahabat-sahabatnya. Salman mengambil Jahiliyyah; Arab, Makah, termasuk juga sekeliling Ka’bah, sebagai setting cerita. Substansi novel ini telah menimbulkan asumsi publik bahwa Salman sudah tidak Muslim lagi, murtad! Novel ini (dianggap) telah mendistorsi elemen-elemen penting Islam. Ia telah melekatkan karakter dan sifat-sifat ‘muhâl’ Rasul pada seorang Muhammad, melalui tokoh Mahound. Dengan demikian, al-Qur`an –yang diyakini umat Islam sebagai wahyu dari Allah—tak lagi sakral, karena penyampainya bukan seorang yang ma’sûm. Melalui penokohan seorang sahabat d...
Komentar
Posting Komentar